Selamat datang di mediapangandaran.com
Seumur Hidup Berdedikasi, Sang Dalang Tak Punya Gelar dan Sanggar
Seumur Hidup Berdedikasi, Sang Dalang Tak Punya Gelar dan Sanggar

Seumur Hidup Berdedikasi, Sang Dalang Tak Punya Gelar dan Sanggar

Enju (65) saat menunjukan karyanya Minggu (03/03/2019)

Seumur Hidup Berdedikasi, Sang Dalang Tak Punya Gelar dan Sanggar
MediaPangandaran.Com - Suara ayam bersahutan menandakan pagi telah tiba di Desa Bojong Kecamatan Parigi, seorang pria paruhbaya kelahiran tahun 1954 mulai terbangun dari tidur pulas dan bergegas mengambil abdas (air wudhlu).

Usai shalat, secangkir kopi suguhan dari sang istri tampak sudah tersedia di meja tamu. Berjejer dengan sebungkus rokok, asbak kayu dan beberapa toples makanan ringan buatan kampung turut menemani diskusi pagi bersama sang burung diluar rumah.

Dirumah bergaya Jawa dan terletak persis pinggir sawah, beberapa benda pusaka peninggalan zaman dulu, patung dan wayang hasil buah tangan sang dalang tampak berjejer.

Fajar perlahan mulai tiba. Ditangan sang dalang multitalenta Enju (65) pisau raut mulai menari diatas kayu, membuat wajah anak kedua dari Pandawa. Lantas kemudian mengukir helai demi helai rambut Bimasena.

"Saya senang sama wayang itu sejak mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar, malah dari beres sekolah sampai sekarang mungkin sudah menjadi syariat sumber rejeki," ungkap Enju

Awalnya kata Enju, membuat wayang itu hanya iseng iseng saja, karena suka nonton. dari pertama membuat di tahun 1963 jumlah karyanya tidak terhitung tapi tak punya koleksi.

"Kan saya bikin wayang itu kalau sudah beres langsung dijual, jadi tidak ada hitung hitungan jumlah hasil karya. Bahkan hingga sekarangpun paling cuma beberapa yang ada dirumah," tutur Enju.

Saat kecil dulu ia mengaku sering coba coba bikin wayang sambil ngangon (Nunggu) domba dikebun dengan anak anak lain yang seusia,".

Waktu terus berlalu. Enju kecil tumbuh besar dan mulai bekerja sebagai petugas lapangan di Dinas Pekerjaan Umum (PU) ditahun 1970 dengan upah Rp 300. "Saya tetap bikin wayang meski sibuk ngurusin jalan," Tegasnya.

Karena ada pengangkatan pekerja dilingkup dinas PU menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan syaratnya harus sudah menikah, Enju menyunting seorang gadis pada tahun kelima saat ia bekerja.

"Sudah menikah itu kebutuhan terus meningkat, gaji sebulan tak cukup. wayang sudah laku Rp 300, dan sehari saya bisa bikin enam buah, jadi mending keluar dari PU dan bikin karya sendiri," imbuh Enju.

Sejak keluar dari PU, Enju mengaku terus mengembara menjadi pembuat wayang, dari mulai di kampung sendiri hingga menetap lama di Yogyakarta.

"Pulang dari Jogja, saya pindah ke Kota Banjar. Disana juga masih membuat wayang, namun kadang kadang jadi kondektur pentas bareng dalang Mingun," kata Enju.

Dalang Mingun ucap Enju adalah salah satu guru yang mengajarkan pentas wayang bersamaan dengan Dalang Jeje dan Dalang Yamin.

"Sebetulnya yang menjadi kiblat saya belajar adalah Dalang Jeje, namun karena ia meninggal, saya nggak tuntas belajar mendalang," paparnya.

Sejak tahun 1995 Enju mulai mencoba mendalang sendiri, pertama manggung ia mengaku terpaksa karena ada tetangga yang punya nadzar.

"Ki Usdi dulu yang memaksa saya untuk manggung di Desa Bojong dengan bayaran Rp 250 ribu, karena nggak punya wayang dan gamelan, saya nyewa ke Dalang Jeje,".

Sejak saat itu kata Enju, panggung mulai berdatangan. Dari mulai pentas di kampung hingga mendalang bareng anak anak maestro dalang Ade Kosasih dan Dede Amung di Bandung.

"Pak Dede Amung sama Pak Ade Kosasih sering main kerumah, malah sebelum meninggal ia memesan wayang ke saya. Baru dapat 40 Pak Ade dikabarkan wafat,".

Sambil mendalang, Enju juga rajin membuat ukiran kayu untuk meubeul bahkan patung dari kayu yang dipesan oleh beberapa juragan.

"Beberapa pejabat di Kabupaten Pangandaran sudah jadi pelanggan karya karya saya, bahkan Mantan Bupati Purwakarta Pak Dedi Mulyadi juga pernah beli patung disini,".

Selama mengabdi menjadi Dalang, Pembuat Wayang dan Pembuat ukiran. Enju mengaku belum mendapatkan penghargaan atau gelar apapun dari pemerintah ataupun swasta.

"Ya kalau masalah gitumah saya tidak akan keukeuh mau, apalagi menolak. Toh saya sudah bagahia dengan hidup seperti ini," ujarnya.

Meski tidak punya sanggar untuk mengajarkan keahliannya, estafet membuat wayang tidaklah putus. Ia mengaku ilmunya sudah diturunkan kepada kedua anaknya, bahkan ada beberapa anak dari luar yang juga turut belajar.

"Ya kalau mau belajar silahkan saja, saya tidak akan pelit kalau masalah ilmu, kalaupun ia sudah punya karya dan menghasilkan pundi. Saya malah senang dan tidak pernah mau meminta imbalan,".
Advertisement

Baca juga:


Admin
Wartawan at Media Pangandaran.