Selamat datang di mediapangandaran.com
Aswaja Center Kab.Pangandaran Kupas Nasionalisme Dalam Halaqoh XIII

Aswaja Center Kab.Pangandaran Kupas Nasionalisme Dalam Halaqoh XIII

Aswaja Center Kab.Pangandaran Kupas Nasionalisme Dalam Halaqoh XIII
Halaqoh Aswaja Center Kabupaten Pangandaran Ke XIII di PP Miftahul Ulum Cimerak Rabu malam (06/02/2019)

Cimerak, MediaPangandaran.Com - Tanamkan jiwa nasionalisme dari perspektif Islam kepada masyarakat, Aswaja Center Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pangandaran kupas hubbul wathan dalam halaqoh ke XIII di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Cimerak.

Menurut Direktur Aswaja Center NU Kabupaten Pangandaran Rd Hilal Farid Turmudzi memaparkan materi ini sengaja dibuka supaya umat Islam dipelosok daerah tidak mudah terprovokasi oleh isue isue radikal yang berkembang diluar.

"Alhamdulillah masyarakat masih berbondong bondong datang untuk ikut pengajian halaqoh aswaja meski tanpa komando dari manapun," ungkap Rd Hilal Rabu malam (06/02/2019).

Sementara, Direktur Aswaja NU Center Tasikmalaya KH Yayan Bunyamin yang juga menjadi pembicara menegaskan bahwa halaqoh ini merupakan tradisi bathsul qutub yang sudah mulai hilang.

"Zaman memang sudah beralih ke era digital, namun tradisi kajian ilmiah dalam islam ini jangan sampai hilang," tegas KH Yayan.

Nasionalisme dari perspektif islam kata ia sudah dicontohkan oleh Rasululloh pada saat beliau hijrah dari Makkah ke Madinah.

"Saat itu kan Rasul berdo'a supaya rasa cinta terhadap Makkah bisa tertanam dalam jiwa sebagai tempat kelahirannya," ucapnya.

Hal ini kata ia mengajarkan kepada umat Rasul supaya bisa cinta terhadap tanah air dan bangsa. Jadi, tambah ia kita juga harus cinta terhadap Indonesia.

"Kan beberapa waktu lalu ramai isue Indonesia itu thagut karena tidak menggunakan syariat Islam, ini berarti mereka ngajinya belum sampai sana," Imbuh KH Yayan.

Lebih lanjut ia menjelaskan Pancasila dan Undang-Undang dasar sebagai ideologi bangsa yang sudah sesuai syariat Islam.

"Dalam teks-teks keislaman, baik Qur'an atau Hadits, itu tidak ada sistem politik yang dijelaskan. Namun lebih ke etika politik," paparnya.

Politik dalam Islam ucap ia ini fleksibel dengan kondisi masing masing negara. Yang penting tujuannya, tambah ia mendekatkan kemaslahatan dan menjauhkan kemudharatan.

"Lah ini kan tujuan Islam. Toh kalau kita melihat sistem politiknya, dari sejak wafatnya Rasul, sistem pemerintahan Islam terus bertransformasi," jelas KH Yayan.

Transformasi ini tukas ia terus berubah sejak masa ke masa, dari mulai sistem khilafah demokrasi, hingga Republik yang berbentuk Dinasti.
Advertisement

Baca juga:


Admin
Wartawan at Media Pangandaran.