Selamat datang di mediapangandaran.com
Mau Tau Tradisi Para Calon Jawara Silat, Ini Dia Salahsatunya

Mau Tau Tradisi Para Calon Jawara Silat, Ini Dia Salahsatunya

Mau Tau Tradisi Para Calon Jawara Silat, Ini Dia Salahsatunya
Salahseorang murid saat mengikuti tradisi 7 Jumat, Kamis (10/01/2019)

CIJULANG, MediaPangandaran.com - Pasca ditempa dalam latihan setengah tingkat, para calon jawara di perguruan silat Tjimande Tarikolot Kebon Djeruk Hilir (TTKDH) Batukaras, Kecamatan Cijulang ada tradisi yang tidak boleh dilewatkan.

Menurut salahseorang pelatih di perguruan TTKDH Batukaras Sidorus Susanto, tradisi ini dinamakan ruwatan 7 Jumat karena dilakukan setiap malam jum'at selama tujuh kali tanpa boleh bolong satupun.

"Ini dilakukan karena para murid akan naik ke tingkatan jurus kelid, yang mana dalam jurus ini mereka akan bermain pukulan tulang," papar Dorus Kamis malam (10/01/2019).

Tradisi ini kata Dorus terus dilakukan turun temurun dari sejak berdirinya perguruan seni bela diri TTKHD di Banten ratusan tahun silam.

"Kalau untuk yang sudah melakukan ruwatan ini, biasanya ada ruwatan wajib setahun sekali pada ruwatan kecer di bulan Rabiul Awal, kalaupun mau ikut yang ruwatan tujuh jum'at lagi, itu sah sah saja," ungkap Dorus.

Di Batukaras sendiri, kata ia tradisi ini mulai berkembang dari sejak masuknya TTKHD ke Batukaras pada tahun 1986 dan hanya di ikuti oleh para orangtua.

"Kan tiap malam jumat para orangtua tidak melaut, jadi mereka selalu latihan silat walaupun kondisinya gelap karena tidak ada listrik," imbuhnya.

Sekarang, ucap ia tidak hanya orangtua. Siswa SMA dan SMP juga turut melakukan latihan rutin. Bakhan kata ia ada murid yang masih berusia SD juga ikut.

"Ya kalau yang SD paling hanya diajari dasar dasarnya saja, tulang mereka kan masih rapuh, dari sisi psikologis juga masih rentan. Takutnya disalahgunakan," tutur Dorus.

Meski seni bela diri ini merupakan permainan santri, untuk menjadi murid di TTKHD, kata Dorus tidaklah sulit, asalkan ada izin dari orangtua saja sudah cukup, supaya tidak terjadi salah faham.

"Lazimnya ada ikrar seren dari orangtua sebagaimana menitipkan santri ke pesantren, tapi disini belum semuanya seperti itu," tukasnya.

Diakhir percakapan sambil melihat para murid latihan, Dorus meminta perhatian kepada pemerintah supaya memberikan sarana penerangan.

"Ya kami terus latihan dengan sarana seadanya, kemarin sih sudah mengajukan untuk penerangan, tapi belum ada tindak lanjut," pungkasnya.
Advertisement

Baca juga:


Admin
Wartawan at Media Pangandaran.