Selamat datang di mediapangandaran.com
Kertawaluya Bagi ODHA Dipertanyakan Yayasan Mata Hati
Kertawaluya Bagi ODHA Dipertanyakan Yayasan Mata Hati

Kertawaluya Bagi ODHA Dipertanyakan Yayasan Mata Hati

N(6) saat diantar pamannya untuk diperiksa oleh dokter di Puskesmas Parigi beberapa waktu lalu/Istimewa

Pangandaran, Mediapangandaran.com - Yayasan Matahati yang bergerak dibidang isu HIV/AIDS di Kabupaten Pangandaran pertanyakan kembali kertawaluya bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) kepada Pemerintah Daerah (Pemda) setelah meninggalnya N (6) ODHA anak asal Langkaplancar beberapa waktu lalu.

Menurut Koordinator Program Yayasan Matahati Agus Abdullah menjelaskan kepada Wartawan melalui telpon seluler Senin (13/8).

Dulu saat pembukaan layanan Antiretroviral (ARV) di Puskesmas Parigi, Kata Agus Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata pernah memerintahkan langsung kepada Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemda Pangandaran untuk menjamin kesehatan ODHA dihandel oleh program Kertawaluya.

"Saat itu Pak Bupati menyerahkan secara simbolik kepada seorang ODHA SR (36) dan anakny I (6), tapi sampai sekarang masih belum diterima oleh ODHA," ungkapnya.

Selama ini Agus Menjelaskan pihaknya terus menerus mencoba untuk mengadvokasi kepada Kesra yang dibagi lagi ke Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Dinas Kesehatan.

"Kan katanya slot kertawaluya ada di Dua Dinas," Tegas Agus.

Kendalanya tambah ia ada beberapa ODHA yang memang tadinya sudah ikut BPJS mandiri tapi punya tunggakan dan akhirnya tidak bisa di proses.

Seperti contoh kasus yang terjadi kepada N (6) ucap Agus N diduga meninggal akibat telat penanganan karena keterbatasan biaya.

"N ini kan dulu dihandel sama kedua orangtuanya, karena kedua orangtuanya sudah meninggal, ia dipindah Kartu Keluarga ke Kakeknya dan tetap tidak bisa diproses," tuturnya.

Diakhir Percakapan Agus berharap adanya wahana duduk bersama untuk membahas tentang isue HIV/AIDS di Pangandaran supaya bisa dirampungkan.

Tahun lalu Agus mengaku sering berdiskusi dengan Pemda, namun makin kesini duduk bersama makin jarang dan kalaupun ada orangnya terus berganti.

"Kan kalau dengan orang yang berbeda pembahasan akan kembali ke awal dan menjadi mentah lagi, saya harap di tahun ini Pak Bupati juga bisa turut berdiskusi supaya masalah bisa selesai,". Pungkasnya.

Pada kesempatan yang berbeda, Kepala Dinas Kesehatan Yani Achmad Marzuki dihubungi melalui aplikasi Whatsapp untuk diminta tanggapan terkait ODHA Anak yang meninggal, namun tidak ada jawaban karena sedang Rapat.
Advertisement

Baca juga:


Admin
Wartawan at Media Pangandaran.