Selamat datang di mediapangandaran.com
Waspadai Alergi Pada Anak Sejak Usia Dini
Waspadai Alergi Pada Anak Sejak Usia Dini

Waspadai Alergi Pada Anak Sejak Usia Dini

Alergi pada anak harus diwaspadai sejak dini karena kalau dibiarkan akan berakibat fatal.

Waspadai Alergi Pada Anak Sejak Usia Dini
MediaPangandaran.com - Senyum buah hati Anda mendadak lenyap karena penampilan kulitnya yang merah-merah? Lalu disertai rasa gatal yang mengganggu hingga menimbulkan perasaan tidak nyaman? Kondisi tersebut sering kali dialami anak-anak yang baru saja makan makanan tertentu. Hal ini merupakan sebuah gejala alergi yang tidak bisa dibiarkan lama-lama karena akan mengganggu dan berakibat buruk terhadap kesehatan anak. Bagaimana mengatasinya?

Banyak masyarakat terutama orangtua sering mendengar kata atau istilah alergi, tetapi kurang paham mengenai seluk beluk atau penyebab alergi. Alergi merupakan suatu reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh yang menyimpang dan dapat menimbulkan gejala yang terlihat dan merugikan tubuh. Reaksi alergi timbul tanpa adanya penyebab yang jelas.

Berdasarkan Wikipedia Indonesia disebutkan bahwa alergi atau hipersensitivitas tipe I adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik). Secara sederhana disimpulkan bahwa tubuh manusia akan bereaksi berlebihan terhadap bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap berbahaya.

Alergi pada dasarnya terjadi karena punya atopik. Misalnya alergi pada anak bisa terjadi pada ayah dan ibu atau keluarga kandungnya yang pernah menderita alergi. Maka, ia punya risiko mendapatkan alergi. Hal ini tidak terjadi langsung, tetapi melalui proses sensitisasi, yang tadinya tidak sensitif jadi sensitif. Reaksi alergi pada anak akan berbeda yang satu dengan yang lain.

Ada beberapa contoh reaksi alergi yang biasanya terjadi pada anak di antaranya, jika mengalami alergi terhadap telur, maka akan langsung gatal-gatal di seluruh tubuh. Kulit kemerahan seperti bentol dan diare. Bila mengalami alergi terhadap makanan yang termasuk kelompok seafood, maka biasanya akan terasa gatal sehabis mengonsumsi makanan jenis ini. Ada juga yang mengalami alergi terhadap debu yang ditandai batuk-batuk, gatal-gatal, dan kemerahan pada kulit.

Ketika baru pertama kali mengonsumsi makanan tertentu yang ternyata menjadi pemicu alergi, biasanya belum akan timbul reaksi alergi tersebut. Tapi, setelah berulang kali baru akan timbul. Berulangnya itu tergantung dengan kondisi masing-masing anak. Jika makin sensitif, maka akan cepat timbulnya. Selain dimakan, reaksi alergi juga bisa terjadi melalui udara. Misalnya, ibu sedang goreng udang, terus aroma udangnya nempel di kulit atau terhirup, maka proses sensitisasi akan terjadi.

Selain tanda-tanda reaksi di atas, bisa juga ditandai dengan muntah, diare, sakit kepala hingga sesak nafas. Sedangkan penggunaan pestisida pada makanan tidak memiliki pengaruh besar terhadap penyebab alergi. Pestisida bisa menjadi allergen atau mengiritasi. Jika mengiritasi tidak hanya terhadap alergi, tetapi siapa saja bisa teriritasi. Dengan kata lain, faktor iritasi lebih iritan. Dia bukan hanya untuk alergi, tetapi lebih banyak toksik.

Untuk mengatasi masalah alergi pada anak Anda, sebaiknya ketahui terlebih dulu apa yang menjadi pencetusnya dan lakukan tes alergi kulit atau periksa secara menyeluruh di laboratorium. Usahakan tidak langsung men-judge jenis makanan tertentu yang menyebabkan alergi. Karena belum tentu reaksi alergi terjadi karena pengaruh makanan. Bisa terjadi karena debu, udara dingin atau udara yang terlampau panas.

Segera atasi reaksi alergi sedini mungkin. Bila timbul gejala, segera diobati karena kalau dibiarkan akan meluas, bengkak dan efek buruknya dapat menyumbat saluran nafas. Misalnya, dari reaksi di kulit dibiarkan lama-lama bisa menjadi asma. Perlu diketahui, ada beberapa jenis alergi makanan yang bisa hilang dengan bertambahnya usia karena saluran cernanya dan tumbuh kembangnya makin bagus.

Menghindari alergi terhadap anak dapat dilakukan dengan langkah berikut di antaranya, orangtua harus mencatat anaknya makan apa saja selama perkembangan kemudian memperhatikan setiap reaksi yang timbul dari setiap makanan yang dikonsumsi. Bila timbul gejala pada satu makanan, bisa juga makanan dipantang seminggu atau dua minggu baru dilihat timbul gejala atau tidak.

Pada enam bulan pertama pada bayi, sebaiknya Anda memberikan ASI eksklusif. Setelah jangka waktu enam bulan, anak bisa diperkenalkan pada makanan padat. Sebagai langkah preventif serangan alergi terhadap anak, selama tiga bulan sebelum melahirkan, ibu hamil dianjurkan untuk mengurangi konsumsi makanan yang bisa menjadi pencetus alergi contohnya telur, kacang-kacang atau seafood.
Advertisement

Baca juga:


Admin
Content Writer at Media Pangandaran.