Tips Usaha Sanggar Rias Pengantin dengan Untung yang Menggiurkan
Tips Usaha Sanggar Rias Pengantin dengan Untung yang Menggiurkan

Tips Usaha Sanggar Rias Pengantin dengan Untung yang Menggiurkan

Cara mengelola usaha sanggar rias pengantin agar menguntungkan.

Tips Usaha Sanggar Rias Pengantin dengan Untung yang Menggiurkan
MediaPangandaran.com - Kebiasaan orang Indonesia untuk menggelar acara pernikahan menjadi celah tersendiri untuk bergelut di bisnis ini. Sementara itu banyak cara yang bisa dilakukan untuk terjun ke dalamnya. Supaya makin dilirik konsumen maka sebaiknya beberapa partner digandeng untuk membuat suatu paket. Pengalaman mereka yang sudah berjalan hal ini lebih diminati konsumen, meski begitu risiko dengan menggandeng partner juga bisa timbul. Bagaimana lika-liku bisnis jasa yang satu ini?

Pernikahan yang indah dan berkesan tentu jadi dambaan semua orang. Momen sekali seumur hidup ini diharapkan menjadi sempurna dan menjadi kenangan bagi kedua pengantin, keluarga maupun handai taulan yang menghadirinya. Tak heran untuk bisa membuat semuanya berjalan lancar, para calon pengantin akan mempersiapkan jauh-jauh hari segala sesuatu yang dibutuhkan untuk momen ini. Mulai dari rias, busana, dekorasi, undangan, dokumentasi, dan katering. Kebutuhan ini tentu tak memakan dana sedikit. Paling tidak puluhan juta harus digelontorkan. Peluang inilah yang kemudian digarap oleh mereka yang memang memiliki talenta di bidang ini. Meski tak setiap bulan ramai peminat, bisnis ini sudah barang tentu menggiurkan.

Adalah usaha sanggar rias yang dominan untuk bisa memberikan layanan semacam ini. Pasalnya saat ini mereka tak melulu menyediakan jasa rias wajah dan sanggul plus busananya saja. Mereka juga menggandeng rekanan atau bahkan memiliki pegawai yang memang bisa menangani bidang semacam itu. Intinya konsep one stop wedding memang menjadi keinginan mereka dalam menjalankan usaha.

Berbagai jalan yang kemudian menjadi cikal bakal orang untuk mendirikan usaha sanggar rias pengantin ini. Ada yang bermula dari hobi dan talenta, ada yang memang ingin meneruskan usaha orang tua atau ada yang memang tidak memiliki keahlian di bidang tata rias namun mampu memenej komponen-komponen yang dibutuhkan untuk usaha tersebut. Namun apapun alasannya, usaha ini memang menarik untuk digeluti.

Salah satu pertimbangannya karena kebiasaan menikah dengan perayaan masih sangat kental dalam masyarakat Indonesia. Ditambah lagi 20 persen dari total penduduk Indonesia merupakan usia produktif yang siap menikah. Selain itu, masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung adat ketimuran dengan mengutamakan prinsip-prinsip kesakralan selalu merencanakan pernikahan jauh-jauh hari untuk memberikan hasil maksimal meski dengan imbalan biaya yang besar.

Menggandeng Partner
Membangun sebuah bisnis sudahlah pasti Anda harus menguasai bidang tersebut. Dari mereka yang memang terjun ke bisnis ini rata-rata awalnya memang menimba ilmu pada para perias mumpuni dengan jam terbang yang sudah tinggi. Namun ada juga yang sebenarnya tak memiliki keahlian tata rias ikut terjun ke bisnis ini.

Meski keahliannya lebih pada kemampuan mendisain dan menjahit busana penganten ia tak segan terjun ke bisnis ini. Dengan kemampuan manajemen yang ia miliki, ia menggandeng partner beberapa perias pengantin, ahli dekorasi, fotografer, bahkan katering dalam satu bendera usaha milik dia.

Dengan menggandeng partner-partner ini dan memberikan jasa layanan berupa paket animo konsumen akan menjadi besar. Imbalan yang diterima dengan menggandeng partner bisa bermacam-macam. Ada yang memberi komisi dengan kisaran lima persen setiap even, ataupun memberikan harga standar hingga si pemilik bendera bisa mendapat sedikit tambahan keuntungan. Itu tergantung pada perjanjian di awal kerjasama.

Kendala
Mereka yang ingin terjun ke bisnis rias pengantin sebaiknya memang memiliki ruangan untuk memajang koleksi busana pengantin dan perlengkapan yang ia miliki agar bisa dilihat oleh customer. Jika tidak memiliki tempat usaha untuk mengekspos audience maka promosi yang terjadi hanya dari mulut ke mulut berdasarkan penilaian dari customer yang pernah ditangani.

Bagi yang kurang memiliki jaringan yang kuat budget untuk iklan maupun mengikuti pameran perlu juga untuk dipikirkan. Meski ini memakan biaya yang cukup besar namun bukan tak mungkin hasilnya tidak sia-sia.

Kendala internal berupa baju-baju pengantin yang out of date juga perlu satu penanganan khusus. Misalnya Anda 'melempar' busana-busana pengantin yag sudah tidak tren ke perias pengantin di daerah. Biasanya mereka dengan senang hati akan menerima, sementara Anda akan mendapatkan imbal balik jika baju tersebut sudah disewa oleh pengantin.

Selain itu ada juga beberapa perias pengantin yang tetap menggunakan baju-baju tersebut pada paket-paket murah yang mereka tawarkan. Sayangnya cara ini tak selamanya ampuh karena banyak konsumen yang kurang suka dengan sistem seperti ini.

Mereka yang menggandeng beberapa partner dan keluar dengan menggunakan satu bendera juga harus pandai-pandai membaca situasi. Jangan menggandeng partner yang memiliki nama terlalu besar karena ia akan menenggelamkan nama bendera Anda. Jadi carilah partner yang memiliki nama baik dan tingkat keterampilan yang tinggi namun belum terlalu besar karena meski Anda akan mendapat tambahan penghasilan lewat komisi dengan menggandeng partner namun resiko yang Anda hadapi juga semakin besar.
Advertisement

Baca juga:

Admin
Content Writer at Media Pangandaran.