Sajak-sajak Ratna Ayu Budhiarti
Sajak-sajak Ratna Ayu Budhiarti

Sajak-sajak Ratna Ayu Budhiarti

Inilah 5 Karya Puisi atau Sajak Ratna Ayu Budhiarti

Sajak-sajak Ratna Ayu Budhiarti
MediaPangandaran.com - Ratna Ayu Budhiarti lahir di Cianjur pada 9 Februari 1981. Menulis puisi sejak di kelas 6 SD. Beberapa puisinya pernah dipublikasikan di Mingguan Pelajar, Sahabat Pena, Pikiran Rakyat Minggu, dan beberapa media lainnya, seperti radio.

Sejumlah puisinya dimuat dalam antologi puisi Kue Serabi (Sanggar Sastra Tasik, 2001). Ia sempat menuntut ilmu di Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, Jurusan Agronomi. Beberapa waktu lalu ia pernah tinggal di Jl. Siliwangi No. 85 Tasikmalaya 46115.

Berikut ini disajikan sajak sajak Ratna Ayu Budhiarti untuk Anda simak.

Melankoli

engkaulah kuntum waktu
yang selalu ingin kutanam
dalam pot jiwaku

engkaulah mawar
yang membagi cahaya
saat lentera tak lagi kuasa

digasak perisai
angin dalam hatiku.

Inferno

ada yang merambat di sela-sela
cuaca selarut pagi
meniti batang dan menarik akar kekuatan
serpihan bayang-bayang putih pudar
jejak melambai-lambai kosongkan hati
yang penuh sesak.

menjadi malaikat lagi: itu mungkin jelmaanmu
biar kugapai surga yang harusnya dekat
bukankah kau datang memang menjemput?

tapi surya terbit di barat kau papah
kembali ke timur,
udara terasa penat, hari begitu rapuh
dikalbu.

kau begitu cakap
mencipta badai di laut hatiku

Pertemuan

tak ada kecupan atau pelukan
hari ini, bahkan
soneta yang melambai
 pada onggokan cerita usang
seberapa jauh jarak itu sampai
mengoyak bibir kering haus ciuman
jabat erat dan senyum
 entah hambar atau tulus,
sedikit dipaksakan

apa pun
jalanku patah lagi:
bukan, bukan enggan,
tapi debu menumpuk tebal sekali,

lalu angin menyebarkan
ke segala arah menyergap wajah,
menjamah dada, membedol hati
yang hampir tak berfungsi.
"pantas saja!," katamu.

nanah meleleh di tangan
lalu kucipratkan ke seluruh tubuhmu
sebagai bonus,
atau kau hanya ingin
tanda tanganku saja ?

Prelude

taufan mengguncang ruang
badai berseloroh
matahari yang redup mengintip
dari balik jendela, angin menguak

rumputan di hutan
 perawan koyak; daun berserakan,
sepasang anak Adam
 setengah cemas di engah nafas
berlindung, berbisik;

sebelum gelap merebut langit
dan maut tegak menghadang.
"sst ...jangan bilang siapa-siapa
kalau kita habis bercita?"

Mesin Tik

tik tak tak tak tik tik tak tik
kenapa huruf-huruf itu selalu gagah
menunjukkan nyali
membayangi si kecil? Mentang-mentang besar,
mereka begitu pongah mendikte si kecil?

tak tik tik tik tak tik
lagi-lagi yang kecil selalu
di tindas

tak tik
tuh kan... yangbesar asyik saja menindih di kecil
tanpa beban

(huh payah. Mesin tik ini
sudah rusak rupanya!)
Advertisement

Baca juga:

Admin
Content Writer at Media Pangandaran.