Puisi puisi Karya Rosyid E. Abby
Puisi puisi Karya Rosyid E. Abby

Puisi puisi Karya Rosyid E. Abby

Inilah puisi puisi karya Rosyid E. Abby dalam berbagai tema.

Puisi puisi Karya Rosyid E. Abby
MediaPangandaran.com - Puisi puisi karya Rosyid E. Abby di bawah ini pernah dimusikkan pemusik Gagan dan sempat dipentaskan di GK Rumentang Siang Bandung serta di aula Uninus Bandung. Selain pernah bekerja sebagai penanggung jawab rubrik di Tabloid Sunda Galura, Rosyid E. Abby adalah pemain dan sutradara teater puisi, menulis puisi dalam bahasa Sunda dan Indonesia.

Puisi Sundanya terkumpul dalam antologi Saratus Sajak Sunda (1992) dan Puisi Sunda Indonesia Emas (1995). Kumpulan puisi tunggal nya diberi judul "Simfoni Dunia Kelas Teri".
Berikut ini disajikan puisi puisi karya Rosyid E. Abby untuk bahan kajian.

Simfoni Dunia Kelas Teri   

Pernah suatu ketika Kau terisak
menangisi waktu detik demi detik
karena matahari kehabisan sorotnya di bumi
Degupan napas bagaikan tak mengacuhkanmu
Pohonan yang berjajar sepanjang jalan setapak pun
tak terjamah cahaya matahari
Kesepian dan kesepian

Pernah suatu ketika Kau menjerit
memeras air mata yang hanya tinggal keraknya
menangisi sukma yang hilang entah berlabuh di mana
daunan yang melambai lambai tiada hentinya
bagai tak kenal takut kehilangan cahaya matahari
Padahal mereka pun telah bertahun tahun
bahkan berabad abad berguguran
duh berguguruan

Pernah suatu ketika Kau demikian
gelisah mempertanyakan sejarah. Sejarah yang
hilang terseret arus banjir globalisasi
Padahal di sini langit kemarin masih juga memayungi
jiwa-jiwa kehausan. Suaramu membentuk sebuah simfoni
meski hampir saja kehabisan tenaga:
"Peradaban! Globalisasi! Kemerdekaan!" teriakmu
hampir mengais langit (kuingat langit pernah bergetar
dan mega pernah tersibak, lantaran suaramu menggelegar
mengobrak abrik seisi jagat)

Pernah suatu ketika, Ya. Pernah suatu ketika: Suaramu
begitu mengiris menangisi zaman
Menangisi sejarah. Menangisi peradaban.
Menangisi globalisasi. Menangisi kemerdekaan. Menangisi
dunia superajaib!

Pengembaraan Sunyi

Dari sepi ke sepi
meniti belantara usia
tersesat di dinding waktu
tak kembali lagi...

Dan akupun mengembara sebagai Ahasveros
jauh ke batas cakrawala
di mana camar tak dapat terbang lagi

Penjelajahan

begitu lelap, begitulah hidup
mengembara
dari satu kota ke kota lain
menjelajah
dari satu rimba ke rimba lain
mengarungi
dari satu lautan ke lautan lain
sementara kita makin sendiri terasing
dari tanah kelahiran

Atas Nama Rakyat

"Atas nama rakyat!"
Begitulah kau awali tetek bengek acara seremonial
berkembang berbunga-bunga berbusa-busa
membentur ruang-ruang di langit
bicara kemakmuran negeri dan devisa negara
bicara pembangunan dan utang negara
Sementara kau lupa beribu-ribu anak negeri
berkeliaran di jalanan
tak berbaju
tak berbekal buku catatan sekolah

Maka
atas nama rakyat pula
aku bicara tentang realitas jaman
Jangan kau umbar kata-kata bersayap
karena keindahan hanya ada
pada sayap kupu-kupu
yang terbang dari taman ke taman

Seperti Mulanya

Kau makin jauh
mendekati matahari dari bumi
berlari-lari seperti kijang kencana
sedang aku berputar antara sumhu-sumbu bumi
menerobos goa goa yang pekat

Ada matahari dipundakmu
ada rembulan di pundakku
masing masing jalan sendiri
masing masing berputar sendiri ...

Kau telah tak sadar lagi
siapa aku
kumau kita hidup sendiri-sendiri
seeprti mulanya
sepi dan sendiri
Advertisement

Baca juga:

Admin
Content Writer at Media Pangandaran.