Puisi-puisi Buah Karya Saptaguna
Puisi-puisi Buah Karya Saptaguna

Puisi-puisi Buah Karya Saptaguna

Puisi-puisi ini merupakan puisi buah karya Saptaguna.

Puisi-puisi Buah Karya Saptaguna
MediaPangandaran.com - Saptaguna, lahir di Indramayu Jawa Barat pada 7 Juli 1967. Semenjak kuliah di IAIN "Sunan Gunung Djati", Cirebon ia aktif menulis. Karya jurnalistiknya pernah dimuat di Republika, Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Tabloid Hikmah, Mitra Dialog, dll. Pernah menjadi wartawan "Radar Cirebon" dan Redaktur Pelaksana "lndrapos".

Sementara buah penanya yang telah dibukukan adalah Wong Derma Ngomong, Ginan Wisnu Kawirian Kisah Hidup dan Kariernya, Kiser Pesisiran, Dari Negeri Minyak. Puisinya yang berjudul "Pilgrim Selimut Malam" dan Cerpennya "Lazuardi" menjadi pemenang lomba Cipta Puisi dan cerpen yang diselenggarakan oleh Tim Budaya PR dan Bank BTPN Cirebon. Sementara cerpennya yang berjudul "Atrhresiano" masuk sepuluh besar dalam Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) yang diselenggarakan oleh Dikdasmen Pusat. Kini selain menjadi guru di sebuah SMU di Indramayu ia juga aktif di Dewan Kesenian Indramayu (DKI).

Berikut disajikan puisi-puisi buah karya Saptaguna.

Sajak Dispensasi

Tuhan,
Kembalikanlah rembulanMu
sebab malam dan bintang yang berada dalam kamarku
adalah batu sunyi dan siluet abadi

Tuhan,
kirimkanlah matahariMu
karena bumi yang berputar pada rongga dadaku
telah menjadi salju

Indramayu, 27 September 1994

Percakapan Beranda

Inikah rumah kita?
sirkuit api, gugusan kabut
dan malam yang tak menyala bukankah
pada setiap pagi yang terbunuh
kita selalu terjaga membangun masjid-masjid tua

Inikah tempat kita (?)
Sebuah vas bunga terjatuh
Mawarnya membeku menutup Qur'an kita

Indramayu, Maret 1998

Reuni Air Mata

-bagidesaku

Kembali aku menapaki jalan terjal itu
kerikil dan debu mengabarkan musim katiga
seluruh padi merunduk setelah sekian lama
tak tahan mengandung tangis lumbung padi
dan jerit petani papa

Sungai-sungai hanya menawarkan luka
tela yang menganga masih terus mengabadikan
leng-leng kesedihan dan duka
entah sampai kapan air akan mengalirkan
deras rindu dan gemercik cinta

Aku lalu menyampaikan salam purba ,
tak ada tawa burung cici atau tiupan batang padi
aku hanya disapa gelisah daun kelapa
dan rintihan bambu tua

Kecemasan demi kecemasan terus kita rajut menjadi pintalan air mata

Ibu-ibu tak sudi lagi merawal burkat pengantinnya,
sebab anak-anak yang dilahirkannya hanya menjadi kafilah senja

Dari setiap tajug masih kudengar
pujian yang pahit dan sholawat getir

seperti raungan para kiai yang
menyaksikan santri merobek-robek kitab kuningnya.

Srengseng, Agustus 2001

Monolog Perahu

perahu-perahu yang berlabuh di lautan cintaku
adalah angin: gelombangnya satu persatu
mematahkan rindu sebehan sampai di pantai
dan layar yang gundah itu
mencoba kembali meratapi jejak-jejak ikan

Indramayu, Juli 1994
Advertisement

Baca juga:

Admin
Content Writer at Media Pangandaran.