Selamat datang di mediapangandaran.com
Melahirkan Tanpa Rasa Nyeri dengan Teknik ILA
Melahirkan Tanpa Rasa Nyeri dengan Teknik ILA

Melahirkan Tanpa Rasa Nyeri dengan Teknik ILA

Teknik ILA memungkinkan proses persalinan atau melahirkan tanpa rasa nyeri sehingga kaum wanita tidak perlu takut lagi melahirkan secara normal.

Melahirkan Tanpa Rasa Nyeri dengan Teknik ILA
MediaPangandaran.com - Rasa nyeri akibat melahirkan sering dialami setiap perempuan. Pengalaman melahirkan yang mendatangkan rasa sakit bisa menjadi ketakutan pada proses persalinan selanjutnya. Namun, beberapa tahun belakangan ini ada teknik yang dapat mengurangi rasa nyeri selama persalinan normal yaitu teknik ILA (intrathecal labor analgesia). Teknik ini dapat mengurangi rasa nyeri selama persalinan normal. Anda pun tak akan merasakan nyeri saat melahirkan normal meski kondisi tetap sadar. Benarkah?

Nyeri hebat yang dirasakan selama persalinan kerap membuat kaum ibu takut untuk melahirkan secara normal. Akibatnya, bagi yang tak kuat menahan nyeri tersebut, di tengah proses persalinan tak jarang mereka meminta untuk dibedah sesar. Rasa nyeri selama persalinan terjadi karena adanya kontraksi uterus (rahim). Untuk menimbulkan pembukaan jalan lahir dan untuk mengeluarkan bayi, tentunya dibutuhkan adanya kontraksi. Nah, kontraksi inilah yang akan menjadi pemicu timbulnya rasa nyeri. Kadar kontraksi ini berbeda-beda untuk setiap ibu. Ada yang hanya sedikit saja merasakannya dan pada dasarnya ia bisa mengatasi rasa sakit tersebut. Tapi, ada juga calon ibu yang merasakan rasa nyeri yang luar biasa. Bahkan, mayoritas mereka tidak bisa mengatasi rasa nyeri tersebut.

Sebetulnya cukup banyak teknik yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa nyeri selama persalinan. Pertama, dengan menyuntikkan obat melalui pembuluh darah atau otot. Namun efeknya, bayi dan sang ibu akan tidur atau mengantuk. Kedua, dengan menggunakan obat bius lokal. Bius lokal ini terutama yang dipakai untuk menghilangkan nyeri saat penjahitan luka pelebaran jalan lahir. Ketiga, bius total yang diberikan pada keadaan tertentu yang diakhiri dengan operasi. Namun efeknya, ibu menjadi tidak sadar sehingga ia tidak dapat langsung melihat bayinya begitu lahir.

Berhubung beragam teknik mengatasi rasa nyeri tersebut belum sempurna, maka kini dunia kedokteran menyediakan metode terbaru untuk mengatasi nyeri selama persalinan. Teknik ini dikenal dengan intrathecal labor analgesia (ILA). Meskipun teknik ILA ini sudah 20 tahun digunakan di Amerika Serikat, namun di Indonesia teknik ILA untuk menghilangkan rasa nyeri selama persalinan ini baru digunakan dua tahun belakang ini.

Teknik ILA dilakukan dengan cara menyuntikkan obat ke urat saraf di tulang belakang bagian bawah. Alhasil, walaupun sang ibu yang akan melahirkan tetap sadar, namun dia tidak akan merasakan nyeri. Kendati caranya hampir mirip dengan teknik anestesi regional (epidural), tapi ada perbedaan yang cukup mencolok antara ILA dan epidural. Dalam teknik epidural dosis yang digunakan cukup tinggi, sementara dalam teknik ILA, dosis obat yang digunakan hanya sepersepuluh dari dosis obat epidural.

Tak hanya itu saja, teknik ILA ini pun dilakukan dengan menggunakan jarum yang lebih lembut dan dimasukkan langsung ke dalam selaput otak. Selain itu, di dalam selaput otak itu tidak ada pembuluh darah sehingga tidak menyebar. Selain itu, teknik ILA bekerja hanya memblok rasa nyeri tanpa harus memblok atau mempengaruhi otot-ototnya (motorik gerak). Bahkan, setelah diberi ILA, calon ibu pun bisa tetap bebas berjalan-jalan.

Kekuatan ILA pun lebih lama dari epidural. Jika masa kerja epidural berkisar antara 1 -2 jam, maka ILA bisa bertahan antara 10-12 jam. Jika dengan menggunakan epidural mau tidak mau dosisnya harus ditambah setiap dua jam sekali. Dengan kondisi seperti ini, dikhawatirkan obat ini akan masuk ke dalam sirkulasi darah dan masuk ke dalam janin. Akibatnya, janinnya bisa terpengaruh, misalnya, saat lahir sang janin akan terlihat mengantuk.

Idealnya, karena masa kerjanya yang terbatas, maka ILA baru disuntikkan setelah pembukaan empat. Tak hanya itu saja karena rasa yang teramat nyeri baru dirasakan sang calon ibu setelah pembukaan empat (fase aktif), maka ILA ini baru disuntikkan setelah pembukaan empat.

Teknik ILA juga ternyata mampu mempercepat proses persalinan. Umumnya untuk menunggu hingga pembukaan lengkap, pembukaan 10, diperlukan waktu antara 4-5 jam lagi. Nah, dengan ILA pembukaan lengkap hanya memakan waktu 2-3 jam. Hal ini biasanya terjadi karena ibu tidak merasakan nyeri, maka pembukaan jalan rahim berjalan lebih efektif.

Uniknya lagi, dengan teknik satu ini sang calon ibu pun tetap bisa merasakan kontraksi yang biasanya ditandai dari kondisi perut yang terasa kencang. Dengan demikian, si calon ibu pun tetap bisa mengetahui tanda-tanda persalinan. Kondisi ini tentu saja berbeda dengan teknik epidural, pasien bisa tidak tahu sama sekali kala ia sedang mengalami kontraksi. Sehingga kerap kali persalinan memakan waktu yang sangat lama.

Selain itu, dengan ILA, kaum ibu pun akan merasakan peregangan di bagian paha dan Miss V. Prinsipnya, jika tadinya saat kontraksi nyerinya hilang sama sekali, nah, saat bayinya sudah di dasar panggul dan mau keluar kepalanya, kaum ibu akan merasakan sedikit rasa sakit. Tentunya rasa sakit ini hanya berkisar antara 10 persen dari rasa sakit yang sesungguhnya. Kondisi ini sendiri nantinya bisa menjadi penunjuk bagi sang dokter maupun sang calon ibu kapan saat yang paling pas untuk mengejan.
Advertisement

Baca juga:


Admin
Content Writer at Media Pangandaran.