Difteri, Kenali Gejala dan Cara Penanganannya
Difteri, Kenali Gejala dan Cara Penanganannya

Difteri, Kenali Gejala dan Cara Penanganannya

Difteri sering menyerang anak-anak. Kenali gejalanya dan cara pencegahannya.

Difteri, Kenali Gejala dan Cara Penanganannya
MediaPangandaran.com - Difteri merupakan penyakit menular akut yang menyerang saluran napas, disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae yang dapat menghasilkan zat beracun (toksin). Bakteri ini dapat berkumpul di daerah hidung, tenggorokan, amandel (tonsil) dan kotak suara (laring). Pada beberapa anak, bakteri ini dapat ditemukan di daerah mata, kulit, dan kemaluan. Pada mulanya, gejala yang sering ditemukan berupa demam ringan, nyeri menelan, lemah,dan lesu. Perjalanan penyakit selanjutnya, akan ditemukan selaput putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung, kemudian dilanjutkan dengan pembengkakan leher.

Difteri merupakan penyakit yang sangat menular dan mematikan. Ia seperti pembunuh senyap yang berjalan perlahan tetapi berakibat fatal. Penyulit yang umumnya ditemukan adalah sumbatan jalan napas akibat selaput dan pembengkakan pada leher. Anak akan kesulitan bernapas sehingga akan mengeluarkan suara napas tambahan yang khas untuk penderita difteri. Kematian akan mengintai ketika anak mengalami gagal napas.

Tak hanya itu, penyulit lainnya adalah radang otot jantung (miokarditis). Miokarditis akan berakibat fatal apabila menunjukkan gangguan bunyi dan juga irama jantung. Difteri dapat ditularkan melalui droplet (percikan bersin dan batuk). Penyakit difteri tidak hanya ditularkan oleh penderita tetapi juga dari carrier (pembawa), baik anak maupun dewasa yang tampak sehat di lingkungannya. Karena difteri merupakan penyakit yang sangat menular, maka rantai penularan harus segera diputus setelah seorang anak didiagnosis menderita difteri. Seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah harus diperiksa oleh dokter dan petugas Dinas Kesehatan.

Tak ada tindakan yang lebih efisien dalam menghindari terjadinya difteri kecuali pemberian imunisasi. Hal itu sudah dapat dibuktikan, baik di dalam maupun luar negeri. Di negara maju dengan keadaan gizi dan higienitas yang tinggi, imunisasi terus diberikan dalam usaha memberikan imunitas spesial pada difteri. Imunisasi adalah perlindungan terbaik untuk mencegah penyakit difteri. Imunisasi juga dapat diperoleh dengan mudah di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta.

Imunisasi difteri juga perlu dilakukan secara lengkap dan menyeluruh, yakni usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi Difteri, Pertusis, dan Tetanus (DPT). Anak usia 1-5 tahun mesti memperoleh imunisasi ulangan sebanyak dua kali. Anak usia sekolah mesti memperoleh imunisasi difteri lewat program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa SD (sekolah dasar) kelas I,  II, dan III atau kelas V. Selanjutnya imunisasi ulangan dilakukan tiap-tiap 10 tahun, termasuk orang dewasa.

Setelah imunisasi DPT, sering kali akan muncul demam, bengkak dan nyeri pada lokasi penyuntikan. Namun, hal itu merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam 1-2 hari. Anak yang menderita keluhan batuk pilek ringan tidak dengan demam, tetap bisa mendapatkan imunisasi DPT berdasarkan usia. Bila imunisasi terhenti atau belum komplit, secepatnya lengkapi di tempat layanan kesehatan paling dekat.

Di sisi lain masyarakat juga harus melek terhadap gejala awal penyakit difteri. Apabila terdapat anak yang mengeluhkan nyeri tenggorokan disertai suara mengorok, segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit paling dekat. Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita bakteri agar mendapatkan pengobatan dan pemeriksaan lanjutan.
Advertisement

Baca juga:

Admin
Content Writer at Media Pangandaran.