3 Cara Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak
3 Cara Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak

3 Cara Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak

Inilah kiat agar anak lebih percaya diri sehingga tahan banting dan berani menerima kegagalan.

3 Cara Menumbuhkan Percaya Diri Pada Anak
MediaPangandaran.com - Semakin banyak orangtua yang secara tidak langsung memberi contoh bagaimana menyikapi sebuah kegagalan dengan cara-cara yang justru bisa mendorong anak ke jurang depresi. Lebih bahaya lagi jika sikap itu tertanam dan terbawa hingga dewasa. Mereka akan menyikapi kegagalan dengan kemarahan, rasa putus asa, dan bisa-bisa melakukan hal negatif seperti yang banyak terjadi belakangan ini.

Orangtua, terutama ibu, memegang peran penting dalam menanamkan nilai psikologis, seperti rasa percaya diri pada anak. Dari sisi psikologis, ibu yang merancang anak akan tumbuh seperti apa. Ayah juga berperan besar, Ayahlah yang mencari nafkah untuk menghidupi dan memberi kenyamanan pada anak. Jadi, bukan sekadar materi, melainkan bagaimanan kenyamanan bisa dirasakan keluarga. Dalam hal pekerti, ibu ditengarai memiliki porsi lebih untuk menuntun anak.

Kegagalan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan dan tidak perlu dibesar-besarkan. Demokratislah dalam menjalani hidup sehingga bisa tahu keinginan anak dan berupaya untuk mengontrolnya.

Orangtua berperan besar menanamkan sikap etis dan kemampuan pada anak untuk menerima kegagalan. Berikut kami sajikan kiat agar anak lebih percaya diri sehingga tahan banting dan berani menerima kegagalan.

Pendidikan agama dan nilai tradisional
Iman diyakini menjadi salah satu komponen penting yang mampu mengendalikan emosi seseorang. Tidak sekadar menunaikan kewajiban beribadah, tetapi juga menanamkan sikap menghormati orangtua. Pendidikan agama juga sebaiknya ditunjang dengan penanaman nilai tradisional, seperti sopan santun dan tidak mengambil hak milik orang lain. Dengan demikian, dosa dan bahaya pun secara tak sadar tertanam di benak mereka.

Berikan life skill
Sekolah memberi bekal untuk bekerja. Namun kemampuan emosi jangan pernah ditinggalkan. Jangan sampai orangtua melupakan perkembangan psikologis anak karena selalu menuntut keberhasilan akademis.

Beri teladan, jangan sekadar nasihat
Beri contoh nyata, bukan omongan belaka. Benar atau tidak suatu ucapan, terlihat dari perilaku. Karena itu, anak-anak lebih senang diberi contoh perilaku daripada ucapan semacam nasihat. Mereka akan melihat sendiri akibat yang ditimbulkan dari perilaku yang dicontohkan. Lebih baik sedikit bicara, tetapi banyak aksi yang bisa ditiru anak.
Advertisement

Baca juga:

Admin
Content Writer at Media Pangandaran.