Mengenal Lebih Jauh Push Up, Bukan Sekedar Turun Naik
Mengenal Lebih Jauh Push Up, Bukan Sekedar Turun Naik

Mengenal Lebih Jauh Push Up, Bukan Sekedar Turun Naik

Mengenal Lebih Jauh Push Up, Bukan Sekedar Turun Naik
MediaPangandaran.com - Push up, salah satu bentuk gerak badan yang murah meriah. Murah, lantaran tak perlu tempat atau peralatan yang khusus. Meriah, bisa jadi, karena dijamin banyak mengeluarkan keringat dan otot yang ingin dilatih pun dijamin bisa kencang.

Tapi, melakukan push up tidaklah sesederhana yang selama ini dikira. Bukan sekadar melakukan gerak tubuh turun naik dengan kedua tangan menopang di bawah dada. Ada pula di situ beberapa bentuk variasi posisi dan gerak yang bisa dilakukan agar hasil yang dicapai bisa optimal dan beberapa aturan yang erat kaitannya dengan kesehatan. Yang tentunya agar olahraga ini nggak malah bikin kita cedera.

Apa pun posisi push up, tidaklah lepas dari kondisi otot kedua tangan. Jadi, otot tangan begitu vital untuk melakukan gerakan push up. Jelas, syarat utama berpush up ria ini memang pada kemampuan otot tangan mengangkat beban tubuh. Kalau kuat ya lakukan. Kalau tidak, … ya jangan.

Tak sulit mengetahui kekuatan otot tangan. Tapi jika ingin lebih yakin, alat dynamometer bisa dipakai. Alat yang biasa tersedia di pusat kesegaran jasmani itu bisa mengukur dengan pas seberapa kuat otot tangan dalam melakukan gerakan push up.

Jika kondisi tubuh baik dan tentunya giat berlatih, makin bertambah usia, makin kuat melakukan push up. Tapi batas usia jelas ada. Pada usia 25 tahun di saat perkembangan kekuatan otot berhenti, kekuatan seseorang pun akan merosot.

Kalau begitu ada pula batas usia seseorang boleh atau tidak melakukani push up? Secara umum tidak ada. Tapi yang perlu dicatat, motivasi kamu dalam berolahraga ini. Kalau sekadar bergerak badan ya nyaris tidak ada batasnya. Selama otot tangan masih kuat bisa dilakukan terus. Namun nggak bisa selonggar jika push up itu digelar dalam rangka latihan untuk menguber prestasi. Seorang atlet mau tidak mau harus patuh pada aturan yang antara lain ditentukan lewat bantuan alat dinamometer itu.

Juga perlu dicatat, jangan melakukan push up jika otot tangan dirasa tak cukup kuat. Resikonya bisa cidera otot. Bahkan bisa fatal, jika otot-otot itu sampai terputus.

Dengan berpush-up, apalagi secara teratur, bisa membuat otot-otot berkembang. Terutama pada otot-otot yang langsung menyanggah gerakan ini. Seperti pada otot pangkal lengan, sendi siku-siku, otot dada, dan otot pinggul.

Tapi tak cuma itu. Besar kecilnya perkembangan otot itu pun tergantung pada gerakan dan posisi push up. Jika melakukan dengan gaya 'konvensional'- posisi tubuh rata- pengembangan otot merata. Bentuk otot yang dikembangkan dari gaya semacam ini bisa dilihat pada para atlet angkat besi.

Kemudian ada pula 'gaya miring'. Yakni kedua tangan bertumpu di atas meja atau kursi. Atau sebaliknya, kaki yang nangkring. Memang beban tangan jadi tak kelewat berat. Otot yang terbentuk pun tak begitu besar. Atlet tinju biasa melakukan gaya ini.

Kemudian ada yang disebut 'gaya dinding'. Sesuai namanya, posisi tubuh berdiri, dan tangan bertumpu pada dinding. Gaya semacam ini memang tak begitu membutuhkan tenaga yang besar. Pengembangan otot pun jelas yang paling kecil ketimbang dua gaya lainnya. Tapi, gaya ini menghasilkan daya tahan otot yang besar. Karena bisa dilakukan dalam intensitas yang tinggi. Para atlet lari yang kerap berlatih dengan gaya semacam ini. Makanya, bisa dilihat para atlet ini kendati tubuhnya tak berotot besar tapi punya tenaga yang aduhai.

Kamu-kamu yang ingin berlatih, silakan pilih dari ketiga gaya ini. Cuma yang patut diingat, ya itu tadi. Sesuaikan latihan dengan kondisi tubuh kamu sendiri.
Advertisement

Baca juga:

Admin
Content Writer at Media Pangandaran.