Selamat datang di mediapangandaran.com
Cerpen: Handuk Wasiat
Cerpen: Handuk Wasiat

Cerpen: Handuk Wasiat

Cerpen: Handuk Wasiat
MediaPangandaran.com - Sebenarnya ini adalah hari bahagia buat Willy, karena pada hari ini doi tepat berusia 17 taon. Tapi justru di hari ultah-nya ini Willy jadi cemberut kesal, karena dilarang Papi ngadain pesta ultah, meski cuma ngundang teman-teman sekelas.

"Emangnya kamu cewek pake dirayain segala," alasan Papi.
Kalo Papi udah ngelarang kayak gitu, nggak bakal ada lagi bantahan berkepanjangan. Makanya Willy diem aja, pasrah nerima keputusan Papi.
Tapi eh ternyata Papi penuh kejutan loh. Willy nggak nyangka banget kalo papi ternyata udah nyiapin kado buat Willy.

"Nih, kado spesial buat kamu," kata Papi sambil nyengir.
"Wow, thanks banget, Pi," ujar Willy girang sambil menerima kado pemberian Papi.
Willy lantas membuka kado itu dengan wajah yang gembira. Tapi senyumnya pudar ketika ia melihat hadiah untuk ulang tahunnya yang ke 17 ternyata cuma... handuk!
"Ya, kok cuma handuk, Pi. Apa Willy nggak salah lihat, nih?"

"Nggak, Willy sayang. Kamu nggak salah lihat. Itu memang benar-benar handuk. Tapi kamu jangan sedih dulu. Handuk itu handuk wasiat, Bo!"
"Handuk kumel, jelek dan bau begini dibilang handuk wasiat?"

"Kalo masih baru, namanya bukan handuk wasiat dong. Justru dekil dan kumel itulah yang menandakan bahwa handuk itu merupakan wasiat turun temurun sejak zaman kakek moyang kamu. Dan diberikan kepada anak lelakinya yang telah menginjak usia 17 taon, sebagaimana yang Papi terima dulu ketika ulang taon ke 17. Makanya kamu harus terima, supaya nanti kalo kamu udah berkeluarga dan punya anak laki-laki, kamu bisa mewasiatkan ke anak lelaki kamu saat berumur 17 taon."

"Masak sih han duk turun temurun sejak zaman kakek moyang. Emangnya zaman dulu udah ada handuk kayak gini? Orang zaman dulu kan kalo habis mandi ngeringin badannya pake karung atau kain," komentar Willy dengan nada curiga.

"Ee, jangan salah duga. Kakek moyangmu itu orang kreatif. Beliaulah yang menciptakan handuk. Dan ini adalah handuk pertama yang ada di Indonesia," ujar Papi dengan nada suara bangga.
"Kok, namanya nggak dimasukin dalam daftar nama-nama penemu."

"Itulah. Duluuuuu sekali, beliau memang terkenal. Tapi kalah ngetop ama Cristopher Colombus si penemu benua Amerika, atau dengan Alexander Graham Bell si penemu pesawat telepon. Sedih sekali, kakek moyang kamu benar-benar terlupakan," sungut Papi dengan wajah yang Willy tau dibuat-buat.

"Trus, kenapa harus diberikan pada anak lelaki, Pi?" Willy kembali melontarkan sebuah pertanyaan.
 "Nggak tau deh, habis kakekmu nggak bilang ke Papi, sih."
"Kalo nggak punya anak lelaki?"

"Ya, terus berusaha biar dapet, dong! Dan menurut kakekmu, handuk ini mendorong semangat untuk mendapatkan anak lelaki," Papi menjelaskan dengan serius.

"Trus, kenapa harus diberikan pada saat berumur 17 taon?"
"Udah, ah. Papi mau mandi. Yang penting setiap hari kamu harus pakai handuk ini dan jangan sekali-kali kamu cuci." Lantas Papi pun bergegas ke kamar mandi.

Dua minggu telah berlalu. Willy secara rutin menggunakan handuk itu selesai mandi. Tapi ternyata nggak terjadi apa-apa. Namun ia nggak marah. Ia justru tertawa manakala akhimya ia sadar bahwa sesungguhnya ia udah dibohongin alias dikerjain papinya.

Diam-diam Willy kepengen ngebales perlakuan Papi itu. Tapi bukan ke Papi, melainkan kepada anak lelakinya kelak saat berumur 17 taon. Mungkin benar yang dibilang Papi, handuk itu mendorong semangat untuk mendapatkan anak lelaki.

Sementara itu hasil akhir yang didapat Willy dari handuk itu, menyedihkan sekali, yakni... panu!
Advertisement

Baca juga:


Admin
Content Writer at Media Pangandaran.