Cegah Anemia Pada Anak dengan Pemenuhan Asupan Zat Besi
Cegah Anemia Pada Anak dengan Pemenuhan Asupan Zat Besi

Cegah Anemia Pada Anak dengan Pemenuhan Asupan Zat Besi

Anemia dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Untuk mencegahnya bisa dengan memenuhi asupan zat besinya. ilustrasi (Net)

Cegah Anemia Pada Anak dengan Pemenuhan Asupan Zat Besi
MediaPangandaran.com - Dibutuhkan sedikit saja, tetapi bila kekurangan akan banyak dampaknya. Itulah zat besi yang dibutuhkan tubuh sejak kanak-kanak. Meskipun hanya diperlukan sedikit dan banyak sumbernya, apabila kita kekurangan zat satu ini, anemia akan datang menghampiri.

Masih ingat dengan istilah 3L? Itulah lemah, letih, lesu. Istilah itu sering digunakan untuk mewaspadai kedatangan anemia. Kewaspadaan memang dibutuhkan karena anemia, terutama pada anak, seakan menjadi silent disease, penyakit yang datangnya diam-diam dan terungkap setelah kondisi kesehatan telah memburuk.

Gejala awal anemia pada anak kebanyakan memang disebabkan kekurangan zat besi. Namun, penyakit itu sulit dideteksi pada tahap awal. Sering kali, anemia itu baru diketahui ketika anak sudah sangat pucat dan kondisi hemoglobin yang sangat rendah. Ambang batas hemoglobin adalah 11 mg/dl, tetapi kalau baru mencapai 9-10 ternyata tidak terlihat gejala apa pun.

Jadi, lebih sering terlihat dari formanya. Misalnya, anaknya 3L, performa sekolah menurun, konsentrasi di sekolah menurun, dan terjadi perubahan perilaku. Contohnya anak mengalami gangguan pola makan yang disebut pica karena jadi senang makan es batu, rambut, kertas, dan tanah.

Bukan hanya sampai performa, tetapi anak yang kekurangan zat besi dan mengalami anemia juga memiliki penurunan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, anak sering sakit tanpa disadari bahwa penyebab awalnya adalah kekurangan zat besi.

Zat besi memang dibutuhkan hanya sedikit. Akan tetapi, ia dibutuhkan untuk fungsi yang vital, yaitu untuk pembentukan sel usus. Apabila tubuh mengalami kekurangan zat besi, usus tidak akan mampu menyerap makanan. Akibat berikutnya, tubuh akan kekurangan zat yang dibutuhkan.

Oleh karena itulah, anak yang mengidap anemia cukup parah, biasanya tubuhnya pendek. Selain itu ada hambatan dalam tumbuh kembangnya dan kemampuan inteligensia yang berada di bawah rata-rata.

Anemia pada anak karena kekurangan zat besi itu tidak ada gejala fisik yang khas sehingga sering baru terungkap ketika dampaknya sudah teriihat. Memang ada screening awal yang ditetapkan WHO seperti telapak tangan yang jauh lebih putih daripada lengannya. Akan tetapi, pucatnya itu belakangan munculnya ketika sudah memburuk. Dengan berbagai kondisi itu, anemia memang baru terkonfirmasi ketika sudah melakukan pemeriksaan darah.

Penerangan yang terpenting pada anemia anak adalah edukasi untuk pencegahan. Itu dimulai sejak bayi di dalam kandungan. Sang ibu sebaiknya mengonsumsi suplemen zat besi. Asupan itu akan menjadi "warisan" bagi sang anak agar sewaktu dilahirkan memiliki cadangan zat besi yang cukup.

Ketika anak lahir, setiap ibu harus memberikan asupan gizi yang terbaik, yaitu air susu ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan pertama hidup sang anak. Meskipun zat besi di dalam ASI jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan susu formula, penyerapannya hampir seluruhnya.

Setelah ASI eksklusif, kandungan ASI mulai tidak mencukupi tumbuh kembang anak. Mulailah berikan makanan pendamping ASI bertahap. Targetnya, pada usia satu tahun, anak sudah bisa mengonsumsi makanan seperti menu dewasa. Dia harus diberikan menu seimbang dan bervariasi dari sayur, daging, ikan dan lainnya.

Saat anak sudah bisa mengonsumsi makanan seperti menu dewasa, setiap unsur makanan itu haruslah yang banyak mengandung zat besi. Ada banyak varian bahan makanan yang mengandung zat besi, baik dari unsur hewani maupun nabati. Dari unsur hewani, misalnya, daging sapi, hati sapi, daging merah, telur, dan keju. Dari unsur nabati, yaitu sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan berbagai buah.

Namun, sayangnya pada tahap inilah sering kali orangtua lalai. Anak-anak akan mengalami masa ketika dia memilih-milih makanan yang disukai saja dan tidak mau mengonsumsi makanan sehat yang bervariasi. Karena orangtua pun tidak mendorong anak untuk mengonsumsi menu bergizi yang bervariasi, risiko anemia akan lebih tinggi.

Pencegahan berikutnya adalah dari kebersihan diri sendiri dan kebersihan lingkungan. Misalnya kebiasaan mencuci tangan karena anemia bisa juga disebabkan infeksi cacing di usus yang membuat usus mengalami perdarahan.
Advertisement

Baca juga:

Admin
Content Writer at Media Pangandaran.