4 Puisi Karya Remy Sylado

Di Depan Cermin


Di cermin yang baru dilap
aku melihat rembulan
dan suara ketawa

Siapa yang menanam manggis di kebunku
membuahkan rambutan dan cempedak
Buah-buah di kebunku ada pada musimnya
kecuali kates terus berbuah di semua musim
seperti begitu cinta berbuah dalam hati

Ini tanahairku
tempat kemarin aku lahir
dan besok mati disambut juruselamat

Di negeriku sepanjang tahun ada matahari
yang menjadi mata bagi hari-hariku
Aku memetik dawai-dawai kecapi
di taman bunga segala warna yang mengitari kursiku

Di cermin yang baru dilap
aku berkata kepada roh ibuku:
Bunda, aku ingin menjadi orang sabar
Kesabaran mencegah aku berbuat kesalahan.


Citra

Sudah selesaikah airmatamu mengalir
di pipi lantas jatuh di jari kaki
Kau menangis, wahai jiwa yang lembek
karena terlalu lama dijajah berhala wang
pembeli harkat dengan harga bantingan

Kau tak sempat sadar pada pelanggaran
waris nenekmoyang yang telah pulang ke tanah
mengikuti hari-hari tegangmu sisa kemarin
berlanjut besok dalam jawaban kartu tarot
Menyebut Tuhan yang bersepakat dengan Iblis

Hati kita sama-sama kehilangan gambar
cara menjawab di saat kila.telanjang
Memudar ular di bawah kecendekiaan
yang lahir dari akal tapi beralih ke okol
betapa dekatoya timbangan cerdik dan licik

Martabat, katamu, mengikuti usiamu
senang seketika lantas susah bertahun
dikutuk oleh baju yang mewakili kepalsuan
Jika kita merdeka, merdeka kita oleh cinta
sebab cinta melenyapkan wasangka dan
takut
Tersenyum malaikat di kamar tidur kita.


Di Jam-Jam yang Berjalan

Jarum jam berjalan mengantar rahasia
yang tersembunyi di balik bunyi detik
Berapa kali kita bisa melihat fajar
tak ada yang tahu, termasuk Yesus
orang Nazareth yang terpenjara
di munbar-mimbar kanisah

Kemarin aku sudah bermimpi
berjalan di tengah-tengah bunga
Dan menutup telinga
memejamkan mata
atas kesenangan
yang berubah menjadi racun

Kira-kira siapa yang bisa berkata
waktu yang masih tersisa buatku
bisa melanggengkan cinta
dalam hidup yang begitu singkat

Di jam-jam yang berjalan
pada setiap perayaan ulang tahun
bertambah usia dari tahun kemarin
berkurang usia pada tahun mendatang.


Menangislah, Nak 

menangislah, nak
pada orang berjas di istana
pada orang berdasi di senayan
pada beo yang berkicau di kurungan
pada anjing yang menggonggongi kafilah
pada semua yang tak capek-capeknya ngibul
tentang Indonesia yang aman tenteram
raharja

menangislah, nak
karena mereka tidak sadar
kita menyaksikan kebebalan mereka
yang mengira benang basah bisa ditegakkan.